Gereja yang Misioner, Transformis, dan Mandiri (Terwujudnya Jemaat Yang Kuat Dalam Misi & Pemuridan)

Pendahuluan

Panggilan TUHAN atas diri kita untuk melayani Dia secara fulltime (dan juga fullheart) merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Ada panggilan yang dilakukan Tuhan kepada seseorang ketika ia masih berstatus lajang, ada pula yang sudah berstatus berkeluarga. Apa pun statusnya saat dipanggil Tuhan, tentunya faktor keluarga sangat penting dalam menjalankan amanat yang Tuhan berikan kepada kita. Keluarga bisa membuat seorang hamba Tuhan semakin berhasil dalam pelayanan; atau sebaliknya, semakin terpuruk dalam pelayanan. Apa saja yang perlu dilakukan agar keluarga hamba Tuhan menjadi penopang pelayanan akan bersama-sama kita gali dari Alkitab dan disesuaikan dengan konteks pelayanan masa kini.

1. Dasar Alkitab

Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Alkitab menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam pelayanan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Zipora yang mendukung suaminya, Musa, dan menghindarkannya dari hukuman Tuhan (Kel. 4:24-26).
  • Yosua yang pelayanannya berkenan kepada Tuhan dan berkomitmen untuk membawa seluruh keluarganya beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15).
  • Imam Eli yang tidak tegas terhadap anak-anaknya sehingga pelayanannya dan pelayanan anak-anaknya tidak menjadi berkat membuat Tuhan murka kepadanya (1 Sam. 3:11-14).
  • Yohanes Pembaptis adalah anak Imam Zakharia dan Elizabet yang dipakai Tuhan secara luar biasa (Luk. 1:57-66).
  • Yesus Kristus sendiri yang tetap berada dalam asuhan Yusuf dan Maria hingga Ia berusia 30 tahun (Luk. 2:51-52).
  • Timotius menjadi seorang hamba Tuhan yang memiliki ikatan kuat dengan Lois, neneknya, dan Eunike, ibunya. Di sini peran ibu dalam pendidikan rohani anak-anak sangat penting (2 Tim. 1:5).
  • Timotius memberikan syarat yang sangat ketat bagi para penatua dan diaken, khususnya yang berkaitan dengan keluarga (1 Tim. 3:1-13).

2. Sikap Hamba Tuhan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga perilaku diri kita sebagai hamba Tuhan terhadap keluarga kita.

(a) Kepedulian yang berlebihan – Menjadi hamba Tuhan yang peduli kepada keluarga tentu diharapkan oleh jemaat, tetapi hendaknya tidak berlebihan. Misalnya:

  • Membelanjakan uang untuk keluarga yang berlebihan sehingga kebutuhan dalam pelayanan terabaikan.
  • Menggunakan lebih banyak waktu untuk keluarga dari pada pelayanan terhadap jemaat.
  • Melibatkan keluarga dalam pelayanan yang tidak sesuai dengan karunianya, sehingga menggeser posisi jemaat/pengerja dari pelayanan.
  • Membela mati-matian keluarga yang bersalah.

(b) Ketidakpedulian – Kesibukan dalam pelayanan bisa membuat seorang hamba Tuhan mengabaikan keluarganya. Tentu hal semacam ini tidak boleh terjadi. Ketidakpedulian itu bisa menyebabkan keluarga terlantar yang kemudian bisa menimbulkan cemoohan jemaat dan masyarakat sekitarnya. Misalnya:

  • Mengabaikan Mezbah Keluarga atau pembinaan rohani bagi keluarganya, sehingga isteri dan anak-anak hidup dalam hawa nafsu kedagingan.
  • Mengabaikan waktu kebersamaan dengan keluarga sehingga isteri dan anak lebih banyak curhat ke majelis, pengerja atau jemaat.
  • Mengabaikan pendidikan anak sehingga anak-anak tidak memperoleh prestasi yang baik di sekolah.
  • Mengabaikan kebutuhan ekonomi dan keuangan keluarga, dengan menggunakan berkat Tuhan untuk hal-hal yang tidak perlu.

(c) Melibatkan Jemaat – Hamba Tuhan bias meminta jemaat – sebagai bagian dalam keluarga Allah – untuk ikut memberi masukan dan koreksi terhadap perilakunya dan perilaku keluarganya, dan mau memaafkan apabila ada yang keliru. Masukan dan koreksi dari jemaat tidak boleh dianggap sebagai ancaman melainkan mitra yang positif agar bisa melayani lebih efektif.

3. Sikap Pasangan Hidup

Oleh karena suami isteri adalah satu daging, berarti panggilan Tuhan atas suami/isteri sebagai hamba Tuhan juga merupakan panggilan bagi pasangannya. Itu berarti bahwa pasangan harus memberikan dukungan penuh terhadap pelayanan sang hamba Tuhan. Bentuk kongkret dukungan itu antara lain sebagai berikut:

  • Ikut terlibat dalam pelayanan sesuai dengan karunia dan talentanya.
  • Melengkapi diri dengan pelbagai bahan untuk menunjang pelayanan di bidang rohani dan kehidupan sehari-hari, baik melalui buku-buku, seminar, dan sebagainya.
  • Menjaga kerahasiaan konseling jemaat.
  • Berpenampilan sederhana namun tetap rapi dan sopan.

4. Sikap Anak-anak

Anak-anak hamba Tuhan seringkali dituntut untuk menjadi teladan. Ini menjadi beban yang amat berat bagi mereka. Oleh sebab itu anak-anak hamba Tuhan harus ditolong dengan hal-hal berikut.

  • Mendorong mereka untuk tampil sesuai dengan diri mereka, dan tidak tampil dengan dibuat-buat, sombong atau rendah diri (minder).
  • Mendisiplin mereka jika memang memunculkan sikap memberontak dan mengganggu pelayanan dan ibadah. Ingat kasus Imam Eli.
  • Melatih dan melibatkan mereka dalam pelayanan sesuai dengan talenta yang mereka miliki.
  • Tidak memaksa mereka untuk juga menjadi hamba Tuhan full timer, kecuali memang Tuhan memanggil mereka.

5. Keseimbangan

Alkitab mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan (2 Kor. 8:14). Itu berarti bahwa kita harus menjaga keseimbangan antara hidup pribadi, keluarga, dan pelayanan. Tidak ada salahnya jika kita beristirahat dari pelayanan, berlibur atau cuti dari pelayanan jika memang keluarga kita membutuh-kan kehadiran kita bersama mereka. Jangan hanya sang hamba Tuhan yang maju di depan, melainkan seluruh keluarga diajak maju bersama.

____________________________________________________________

Malang, 16 Maret 2011

Pdt. Petrus F. Setiadarma

Email: petrusfs60@yahoo.com; Blog: http://www.petrusfs.co.cc/