Gereja yang Misioner, Transformis, dan Mandiri (Terwujudnya Jemaat Yang Kuat Dalam Misi & Pemuridan)

Oleh: Pdt. Paul Zaitun, S.Th, MA.-


Pendahuluan:

Melihat  era transformasi  di dunia kontemporer adalah membuktikan bahwa dunia sekarang telah menuju pada suatu focus globalisasi, sebab dunia globalisasi merupakan titik tolak di mana segala sesuatu yang ada dalamnya dapat dirasakan, dilihat dan dinikmati secara global oleh manusia yang ada dipermukaan bumi ini.

Hal-hal tersebut terjadi melalui kemajuan disegala bidang, meliputi: ilmu pengetahuan dan teknologi serta pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia modern.

Tak dapat disangkal lagi bahwa hal tersebut di atas membuktikan pengaruh di/dalam dunia ini sangat dominan sekali sehingga begitu kuat mempengaruhi manusia sejagat raya.

Alkitab jauh sebelumnya telah memberikan peringatan kepada umat Tuhan bahwa kemajuan disegala bidang akan terjadi di akhir zaman (Daniel 12:4).  Bahkan Rasul Yohanes juga mengatakan atas Ilham Roh Kudus, bahwa: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 yohanes 2:15-17)

Apa yang dimaksud dengan Transformis?

1.        Umumnya kata ini berarti “suatu perubahan”. Namun, kata ini disinyalir berasal dari dua kata Inggris Transcend(melebihi/melampaui) dan Form (bentuk); yang secara literal berarti “perubahan bentuk yang melebihi bentuk sebelumnya”. Dari sisi gramatikal, transformasi memiliki arti rangkap, yaitu: dalam bentuk kata sifat (adjective) berarti “perubahan” yang dipahami sebagai sesuatu yang sedang diubah atau berubah; sedangkan dalam bentuk kata kerja (verb) berfungsi sebagai keterangan yang memiliki arti”suatu kegiatan untuk mengubah“.

2.        Dalam bahasa Yunani, kata yang menjelaskan tentang kata transformasi adalah metamorfo’o (Rom 12:2). Secara umum arti kata Yunani tersebut adalah “merubah bentuk“.

3.        Kata metamorfoo berasal dari dua kata Yunani meta(sesudah) dan morfē (bentuk), yang secara literal berarti “sesudah bentuk”. Dalam Perjanjian Baru kata ini hanya dalam makna pasif yakni: (1) suatu bentuk yang telah mengalami perubahan dari bentuk asalnya atau mengalami perubahan penampilan (Mat 17:2); (2) suatu perubahan alamiah dalam batin. Kata ini memiliki kaitan erat dengan kata Yunani metanoeo. Dalam hubungannya dengan kata tersebut, metamorfoo (transformasi) berarti perubahan jalan hidup dalam diri seseorang yang mencakup hati, pikiran, dan sikap. Perubahan itu adalah perubahan dari dosa kepada kebenaran, yang biasanya menunjuk kepada pertobatan (Mark 6:12). Transformasi tersebut merupakan hasil dari karya pimpinan Tuhan atas umat-Nya, seperti dalam Roma 2:4. Transformasi itu juga sangat membutuhkan pertumbuhan yang menghasilkan buah-buah, seperti dalam Lukas 3:8a.

4.        Jadi, transformasi itu berasal dari hati yang bersih dan berdampak pada pikiran yang bersih sehingga menghasilkan tindakan-tindakan yang bersih/baik. Itulah sebabnya transformasi selalu menunjuk kepada perubahan moralitas hidup yang semakin baik (Rm 12:2), menuju kepada keserupaan dengan gambar-Nya (2Kor 3:18). Dalam hal ini sangat jelas sekali adanya suatu proses perkembangan dari suatu bentuk yang baik menjadi bentuk yang lebih baik. Contoh: metamorfose (Ulat – Kepompong – Kupu-kupu).

5.        Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Transformasi berarti perubahan yangmengalami proses pertumbuhan atau perkembangan dari suatu bentuk dan sekaligus bentuk tersebut sanggupmengubah bentuk-bentuk yang ada di sekelilingnya untuk juga mengalami proses pertumbuhan.

Bagaimana membangun gereja yang Transformis?

Melihat keberadaan dunia yang semakin hari semakin inovatif dan memiliki tingkat tranformasi yang begitu dominan, maka mau tidak mau Gereja Tuhan (jemaat dan para pelayan Tuhan atau hamba-hamba Tuhan) harus memiliki “balancing” dalam menghadapi tantangan-tantangan dunia tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh Gereja Tuhan di era transformasi ini, antara lain:

1. Memiliki sikap yang konstruktif (Karakter yang baik)

Sikap yang konstruktif  adalah sikap yang harus dimiliki oleh siapapun dari kita yang telah menjadi murid-murid Tuhan Yesus/anak-anak Tuhan untuk membangun GerejaNya menuju Gereja yang Transformis.

Apa saja sikap yang konstruktif tersebut? Rasul Paulus mengungkapkan hal tersebut dalam 1 Timotius 4:12, sbb: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalamkasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu

Sikap yang konstruktif bagaikan garam yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh banyak orang dan sebagai terang yang dapat menyinari kegelapan (Matius 5:13-16).

2. Memiliki mentalitas yang baik

Mentalitas adalah sikap internal yang terekspos secara eksternal dalam kehidupan setiap orang dalam mengarungi kehdupan ini. Mentalitas yang baik adalah mentalitas yang sangat mendukung bagi kemajuan organisme spiritual dari umat Tuhan dan juga mendukung secara eksternal bagi kemajuan pekerjaan Tuhan, agar Gereja Tuhan dapat terbangun menjadi gereja yang transformis.

3. Memiliki komitmen

Sebagai pelayan Tuhan yang telah menyerahkan diri untuk melayani, kita harus memiliki komitmen di hadapan Tuhan untuk tetap eksis dalam kondisi apapun juga (Roma 12:11)

4. Memiliki dedikasi

Dedikkasi suatu sikap pengabdian yang harus dimiliki bagi setiap pelayan Tuhan dalam berbagai aspek pelayanan, sebab tanpa dedikasi maka pelayanan kita akan menjadi sia-sia karena dedikasi adalah teladan yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kita sekalian (Markus 10:45)

5. Memiliki loyalitas

Dalam rangka membangun Gereja Tuhan yang Transformis, sangat dibutuhkan sikap loyal dari setiap pelayan Tuhan, sebab sikap loyal adalah dasar yang kokoh bagi kita untuk bertahan di tengah arus globalisasi dunia ini. Yesus sudah memberikan teladan loyalitas dalam membangun suasana Transformasi di muka bumi ini (Filipi 2:6-11)

6. Memiliki cinta kasih

Cinta kasih adalah dasar yang paling utama di dalam membangun suatu  komunitas internal dan eksternal bagi “pembangunan” GerejaNya untuk menuju Gereja Tuhan yang Transformis.

Dengan jelas diungkapkan dalam Alkitab bahwa apapun yang bias kita lakukan tanpa disertai dengan cinta kasih maka akan menjadi sia, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Korintus 13:1-3, sbb: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”


Penutup

Oleh karena kasih karunia kita memperoleh AnugerahNya yang begitu besar (Efesus 2:8-10), maka dalam rangka membangun Gereja Tuhan yang Transformis di muka bumi ini marilah kita sebagai pelayan Tuhan tetap kuat di dalam Tuhan, jangan goyah serta selalu giat melayani pekerjaan Tuhan, sebab jerih lelah kita tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58), amin.-