Gereja yang Misioner, Transformis, dan Mandiri (Terwujudnya Jemaat Yang Kuat Dalam Misi & Pemuridan)

Archive for Maret, 2011

Bersepeda Baik Bagi Pasien Gagal Jantung

KapanLagi.com – Bagi mereka-mereka yang sudah pernah dinyatakan oleh dokter menderita gagal jantung kronik jangan ragu untuk memulai latihan fisik berskala sedang untuk membantu memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, demikian anjuran yang merupakan hasil penelitian terkini, seperti dilansir media, Selasa (20/11/07).

Para ilmuwan dari Universitas Leipzig di Jerman menemukan otot-otot jantung yang mengkerut setelah mengalami gagal jantung mengalami perbaikan kembalinya daya kerjanya pada saat di pasien melakukan latyihan olah fisik. Untuk pasien yang mengalami gagal jantung kronik, jantung tidak dapat melakukan kerja memompa darah ke seluruh tubuh. Seringkali hal tersebut menyebabkan otot-otot dari tubuh menjadi lemah dan seringkali tidak dapat bekerja samasekali. Jumlah dari pembuluh darah yang halus dalam jaringan otot juga mengalami penurunan jumlahnya.

Dari penelitian klinis yang melibatkan 25 pria dengan serangan mulai dari yang ringan hingga ke yang paling berat diminta melakukan latihan bersepeda statis sedikitnya 30 menit dalam sehari. Setelah enam bulan mereka dibandingkan dengan kelompok lainnya yang juga terdiri dari 25 orang pria yang tidak melakukan latihan olah fisik sama sekali. Kelompok pria yang melakukan latihan olahraga secara rutin ditemukan memiliki sel-sel ‘Progenitor’ yang belum matang di dalam otot mereka.

Jumlah sel-sel progenitor yang berubah menjadi sel-sel otot bertambah dengan semakin besar prosentase jumlah sel progenitor yang belum matang. Pada saat melakukan latihan fisik, kelompok pasien yang bersepeda mengatakan mereka merasa lebih sehat dan kemampuan latihan olahraga mereka meningkat sebanyak 20 persen.

Dalam penelitian lainnya para ilmuwan menelusuri sel-sel progenitor yang terbentuk di sumsum tulang belakang yang terlibat dalam proses regenerasi dan perbaikan dinding pembuluh darah. Sekelompok pasien yang terdiri dari 37 pasien gagal jantung secara acak diminta untuk melakukan latihan olah raga selama 12 pekan sementara yangb lainnya untuk kurun waktu yang sama  tidak melakukan kegiatan latihan fisik sama sekali.

Dari hasil tes darah menunjukkan sel-sel progenitor dari pembuluh darah yang beredar pada psien ptria yang melakukan latihan
olahraga jumlahnya jauh lebih tinggi. Perbandingan dari sel-sel yang mulai matang menjadi sel-sel endothelial yang membuat
pembuluh darah baru meningkat 200 per sen dengan melakukan latihan.

Sebagai tambahan kepadatan pembuluh kapilaris dalam jaringan skeletal meningkat hingga mendekati 20 persen pada pasien poria yang berolahraga. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam pertemuan tahunan para ahli penyakit jantung Amerika di Florida.

Dr Axel Linke dari Universitas Leipzig yang memimpin penelitian mengatakan: “Dengan melakukan latihan olahraga maka akan diperoleh manfaat bagi para pasien penderita gagal jantung baik dari mereka yang dapat serangan ringan sampai berat.”

Hasil penelitian memperlihatkan manfaat yang diperoleh adalah terjadinya regenerasi sel otot dan sekligus terbentuknya pembuluh darah baru. (kpl/rit)

Iklan

Jangan Larut

Nats: 2 Samuel 12:15-23

Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku (2 Samuel 12:23). Seorang anak kecil menangis keras. “Mengapa kamu menangis?” Tanya ibunya. “Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang,” jawab anak itu. “Ya, sudah, ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya,” kata sang ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. “Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?” tanya ibunya pula. “Kalau uang dari ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu.”

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan sikap kita dalam seharian. Kita kerapkali lebih berfokus pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu yang “diambil” dari kita,  sehingga kita lalai untuk mensyukuri sesuatu yang “diberikan” kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada apa yang sudah  tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Betsyeba meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis… Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” Ayat (22,23). Daud seolah-olah mau berkata: “Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Walau begitu, hidup harus tetap berjalan. “Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani – AYA.

HIDUP TIDAK SURUT KE BELAKANG MAKA JALANI DENGAN MENATAP KE DEPAN

PEMBUNUHAN PALING TERSAMAR

Nats: Matius 5:21-26

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (Matius 5:22).

Firnah dan menjelek-jelekkan orang memang merupakan sebuah pembunuhan karakter. Dimana korbannya akan dipandang jelek dan rendah oleh orang lain. Pembunuhan karakter adalah jenis pembunuhan yang tidak menggunakan senjata, tapi menggunakan kata-kata makian, kutukan, ejekan, dan lain-lain. Pada umumnya orang membatasi istilah “membunuh” hanya kepada tindakan menumpahkan darah manusia. Selama seseorang menjauhkan diri dari perbuatan membunuh, maka ia menganggap sudah memenuhi perintah: “Jangan membunuh”. Tapi Yesus tidak berpendapat demikian. Penerapan dari perintah itu bukan hanya sekedar jangan  menghilangkan nyawa orang lain, namun kalau kita marah dan melukai saudara kita secara moral, maka kita sama dengan membunuhnya. Kata dihukum (ayat 21,22) dalam bahasa asli menunjuk pada hukuman yang akan dijatuhkan Allah. Sebab tidak ada pengadilan manusia yang dapat menyidangkan orang karena menaruh amarah dalam batin. Perintah “jangan membunuh” bukan hanya kita tidak boleh membunuh secara fisik, atau mengutuk saudara kita, tetapi kita juga harus memperbaiki hubungan kita dengan saudara kita. Ada sebuah bahaya dalam kehidupan rohani orang Kristen yaitu ingin menyeimbangkan perbuatan jahatnya dengan perbuatan baiknya dengan cara mempersembahkan persembahan kepada Tuhan untuk menutupi kesalahannya itu. Tetapi Tuhan Yesus tidak mengajarkan demikian, melainkan “berdamai” berdasarkan kasih dan pengampunan Kristus, supaya doa dan ibadah kita kepada Allah tidak terhalang. -HALF.

MENGHINDARI DOSA YANG NYATA ADALAH DENGAN MENYELESAIKAN DOSA YANG TERSELUBUNG DI DALAM HATI

PROGRAM TAHUNAN NASIONAL GPPS 2011

  • 3 Kata kunci dalam menentukan program tahunan nasional GPPS:
  1. Efisiensi Waktu –> mempergunakan waktu yang ada sebaik mungkin (Efesus 5:16).
  2. Efisiensi Pelayanan –> pelayanan yang tepat guna –> GOAL (Yohanes 6:8).
  3. Efisiensi Dana –> Tidak menghambur –> Tepat Guna!
  • Program MP GPPS:
  1. Sidang-sidang MP GPPS.
  2. Retreat anggota MP GPPS bersama para ketua Departemen dan ketua Pengurus Daerah.
  3. Penyelamana Rohani Umum.
  4. Rapat kerja Nasional GPPS 2011
  • Program untuk para Pengurus Daerah GPPS:
  1. Penataran keorganisasian GPPS secara periodik diberikan pada waktu retreat.
  2. Jadwal 2011, dan format dasar Rakerda di daerah-daerah.
  3. Pengarahan MP GPPS dalam rakerda-rakerda PD.
  4. Bantuan dana operasional untuk PD.
  • Program untuk para pejabat GPPS:
  1. Pembekalan training misi.
  2. Pembekalan pemuridan.
  3. Penataran pembimbing pemuridan.
  4. Penataran calon pemimpin komsel.
  • Program Departemen HRD (Peningkatan kualitas pejabat GPPS)
  1. Pendidikan dan latihan calon pejabat GPPS sesuai kurikulum Departemen HRD.
  2. Pendidikan dan latihan jenjang kependetaan.
  3. Pendidikan dan latihan bagi calon pemimpin (gembala), calon PD, Departemen dan calon MP GPPS.
  • Program Departemen PRA (Pemuda-Remaja-Anak):
  1. Penyelaman rohani PRA.
  2. Pembinaan Guru Sekolah Minggu bagi daerah yang membutuhkan.
  3. Pembentukan jaringan pelajar dan mahasiswa GPPS.
  4. Pelaksanaan.
  • Program Departemen Perempuan:
  1. Konggres Nasional Perempuan.
  2. Retreat Perempuan.
  3. Kunjungan ke daerah-daerah.
  • Program Departemen Komunikasi:
  1. Menerbitkan majalah Suara Kebenaran.
  2. Mengelolah website GPPS.
  3. Menerbitkan buku-buku tulisan alm. Pdt. Ishak Lew Lewi Santoso.
  4. Bekerjasama dengan Departemen Pendidikan untuk mengadakan Pendidikan Theologi jarak jauh.
  • Program Departemen Pendidikan:
  1. Peninjauan ke sekolah-sekolah yang dikelolah oleh GPPS.
  2. Sekolah tertulis E-Learning bekerjasama dengan Departemen Komunikasi.
  3. Beasiswa pendidikan.
  • Program Departemen Misi:
  1. Kunjungan ke daerah-daerah.
  2. Magang bina misi untuk mahasiswa STAS dan siswa SES.
  3. Buletin Misi.
  4. Penempatan Field Workers di ladang misi.
  • Departemen Diakonia:
  1. Membantu hamba Tuhan GPPS yang mengalami musibah, sakit, dukacita.
  2. Membantu bencana alam.
  3. Pelayanan medis di daerah-daerah.
  4. Beasiswa bagi anak hamba Tuhan GPPS yang kurang mampu.
  5. Mengusahakan peduli kebutuhan fasilitas gereja di daerah-daerah terpencil.
  6. Kerjasama dengan Departemen Komunikasi untuk kontak dengan PD GPPS.

Tentang Kepribadian

KEKUATAN KEPRIBADIAN

–          Definisi Kepribadian adalah:

  • Kepribadian berasal dari kata “personality” yang berasal dari kata  “personal” (latin) yang berarti “kedok” atau “topeng” atau tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung / sandiwara yang maksudnya untuk menggambarkan prilaku, watak, atau pribdi seseorang.
  • May : Kepribadian adalah nilai perangsang (stimulus) bereaksi. Jadi, bagaimana orang lain itu bereaksi terhadap kita, itulah kepribadian (Agus. Sugianto, 1980 : 20 )
  • M. Prince : Kepribadian adalah keseluruhan watak lahiriah yang berpadu dengan watak yang diperoleh dari pengalaman ( Agus. Sugianto, 1980 :20 )
  • Adolf. Heuken. S. Y. : Kepribadian diartikan sebagai pola semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang baik yang jasmani, mental, rohani, emosional, maupun yang sosial. Semua ini telah ditatanya dalam cara yang khas, di bawah beraneka ….. dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya ( 981 : 14-16 )
  • Dari perumusan umum, definisi tersebut diperoleh unsur-unsur  dalam kepribadian yang meliputi: Perwujudan dari yang kelihatan (appeareance) & Perwujudan yang tidak kelihatan (kehidupan batin / “inner life”)

–          Jadi, Kepribadian meliputi: karakter (watak), tempramen (sifat), interest (minat), ability (kemampuan), physical (keadaan jasmani), dan characteristic (ciri khas).

–          Hambatan-hambatan dalam mengatasi pribadi: diri sendiri, pengaruh sekularisasi, pola hidup modern dan hedonisme, perkembangan moral yang rusak, tontonan-tontonan kebejatan moral.

Christian Mind

–          Apakah pikiran Kristen itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami apa yang disebut dengan pikiran sekuler / duniawi. Dalam kehidupan sehari-hari, rupanya pikiran Kristen sudah tidak ada lagi dalam kehidupan kita Lalu, apa yang ada?

  1. Christian Ethic / Christian Practice (praktek tingkah laku Kristen). Orang Kristen yang hidupnya sehari-hari mempraktekkan tingkah laku Kristen yang sebenarnya tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Misalnya, tidak bertanggung jawab terhadap tugas atau pekerjaannya, tidak disiplin, suka menipu, berbohong, dan sebagainya.
  2. Christian Spirituality (Spiritualitas Kristen). Orang Kristen yang hidup sebagai makhluk rohani atau bergairah rohani, yang mencoba untuk hidup dengan tradisi agama yang agak berbeda dengan agama.
  3. Split Personality (Hidup dalam dunia). Orang Kristen dimana-mana mengembangkan split personality-nya karena tidak ada pikiran Kristen dalam hidupnya. Misalnya, Hari Minggu hidup sebagai orang rohani (Christian Spirituality), tetapi pada hari-hari lain sebagai orang duniawi.

–          Berpikir sekuler adalah berpikir dalam suatu pola pemikiran yang diikat oleh batasan kebutuhan masa kini. Berpikir secara Kristen adalah menerima segala sesuatu dengan pola pemikiran yang bersangkut paut dengan Kristus dan hal-hal yang kekal. Jadi, Kehidupan Kristiani adalah kehidupan dimana orang Kristen betul-betul menempatkan Tuhan menjadi pusat segala sesuatu dalam setiap aspek kehidupannya.

–          Harry Blaminer dalam bukunya The Christian Mind memberikan beberapa tanda dalam pemikiran orang Kristen yang seharusnya mempengaruhi seluruh kehidupannya, antara lain:

  1. Its Supernatural Orientation (Orientasi Supranatural). Orientasi pemikiran Kristen melihat sejak sesuatu di seberang sana (it looks beyond this life to another one). Hakekat kehidupan sebagai sesuatu yang tidak pernah berdiri sendiri (independent).
  2. Its Conseption of Truth (Konsep yang jelas tentang kebenaran). Kebenaran bagi orang Kristen sumbernya semata-mata bukan filsafat manusia.
  3. Its Acceptence of Authority (Penerimaan terhadap otoritas). Orang dunia tidak mengenal otoritas sejati, karena bagi mereka otoritas itu adalah kuasa dan hak yang dimiliki oleh orang karena kelebihan-kelebihan talenta. Orang Kristen wajib mengakui otoritas karena itu adalah perintah Tuhan:
  • Dalam hubungannya dengan pemerintah, kita mengakui pemerintah (Rm. 13:1-7; 1Pet. 2:13-17; Mat. 22:21).
  • Dalam hubungannya dengan orang tua (Kol. 3:20; Mat. 15:4-9; Efs. 5:22-23).
  • Dalam hubungannya dengan suami-istri, misalnya ajaran penundukan diri (1Pet. 3:1-7; Efs. 5:22-23).
  • Dalam hubungannya dengan pendeta dan pemimpin jemaat (Mat. 23:2,3; 1Tim. 5:17,18).
  • Dalam hubungannya dengan gereja sebagai tubuh Kristus (Efs. 4:1-16; Rm. 12:1-8; 1Kor. 12:1-31).

4. Its Concern for Person(Memperhatikan manusia). Memikirkan         manusia adalah dalam bentuk menghargai manusia, tidak memperlakukan         manusia sebagai “mesin” atau “binatang”.

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN (Amsal 27:17)

–          Kesan pertama:

  • Memiliki penampilan fisik yang prima (1Kor. 6:20).
  • Tidak memanjakan tubuh melainkan melatih tubuh melakukan kehendak Allah (1Kor. 9:27).
  • Penampilan selalu ceria dan sehat (1Tes. 5:16).
  • Berpakaian sopan, rapi dan serasi (1Tim. 2:9).
  • Mempunyai percaya diri yang kuat.
  • Keluwesan dalam bergaul.

GOOD MANNER (ETIKA SOPAN SANTUN)

–          Memiliki sopan santun dan tata kram kehidupan yang baik (Rm. 13:13; 1Tes. 4:12).

–          Bersikap selalu ramah tamah (1Kor. 4:13; Efs. 4:13; 2Tim. 2:24; Ti. 3:2).

MENTALITY (MENTALITAS)

–          Kepribadian yang memperngaruhi pelayanan.

–          Taat dan setia kepada kebenaran (2Tim. 3:14).

–          Tidak menurut emosi, melainkan sabar (Rm. 12:12).

–          Tidak berharap dan mengandalkan manusia (mental giat dan pemimpin) – Yer. 17:7,8.

–          Tidak menjadikan pelayanan sebagai tempat untuk mencari hidup.

–          Berkata-kata penuh tanggung jawab (Ams. 18:21).

–          Memiliki disiplin tinggi, dimiliki dari diri sendiri (1Tes. 15:14; 2Tes. 3:11).

–          Tidak tawar hati dalam kesukaran (Ams. 18:4; 2Kor. 4:16-18).

–          Sukses dan gagal pelayanan sebagian besar terletak pada peranan kepribadian.

–          Penampilan pribadi hamba Tuhan di hadapan jemaat dan masyarakat bukan saja sebagai publik relation, tetapi juga sebagai public figure yang memberikan keteladanan.

TEMPRAMEN

–          Melankolik –> murung, cemas, sederhana, pesimis, menyendiri, tak dapat bergaul, pendiam.

–          Kolerik –> mudah tersinggung, tidak tenang, agresif, mudah tergugah, gampang berdebat, ikut suara hati, optimis, aktif.

–          Flegmatik –> pasif, hati-hati, bijaksana, menguasai diri, pendamai, dapat dipercaya, berwatak tegang, tenang-kalem.

–          Sanguin –> mudah bergaul, ramah, banyak bicara, responsif, tidak suka repot, bersemangat, acuh, kepemimpinan.

PERAN RUMAH TANGGA HAMBA TUHAN DALAM MENUNJANG PELAYANAN YANG EFEKTIF

Pendahuluan

Panggilan TUHAN atas diri kita untuk melayani Dia secara fulltime (dan juga fullheart) merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Ada panggilan yang dilakukan Tuhan kepada seseorang ketika ia masih berstatus lajang, ada pula yang sudah berstatus berkeluarga. Apa pun statusnya saat dipanggil Tuhan, tentunya faktor keluarga sangat penting dalam menjalankan amanat yang Tuhan berikan kepada kita. Keluarga bisa membuat seorang hamba Tuhan semakin berhasil dalam pelayanan; atau sebaliknya, semakin terpuruk dalam pelayanan. Apa saja yang perlu dilakukan agar keluarga hamba Tuhan menjadi penopang pelayanan akan bersama-sama kita gali dari Alkitab dan disesuaikan dengan konteks pelayanan masa kini.

1. Dasar Alkitab

Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Alkitab menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam pelayanan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Zipora yang mendukung suaminya, Musa, dan menghindarkannya dari hukuman Tuhan (Kel. 4:24-26).
  • Yosua yang pelayanannya berkenan kepada Tuhan dan berkomitmen untuk membawa seluruh keluarganya beribadah kepada Tuhan (Yos. 24:15).
  • Imam Eli yang tidak tegas terhadap anak-anaknya sehingga pelayanannya dan pelayanan anak-anaknya tidak menjadi berkat membuat Tuhan murka kepadanya (1 Sam. 3:11-14).
  • Yohanes Pembaptis adalah anak Imam Zakharia dan Elizabet yang dipakai Tuhan secara luar biasa (Luk. 1:57-66).
  • Yesus Kristus sendiri yang tetap berada dalam asuhan Yusuf dan Maria hingga Ia berusia 30 tahun (Luk. 2:51-52).
  • Timotius menjadi seorang hamba Tuhan yang memiliki ikatan kuat dengan Lois, neneknya, dan Eunike, ibunya. Di sini peran ibu dalam pendidikan rohani anak-anak sangat penting (2 Tim. 1:5).
  • Timotius memberikan syarat yang sangat ketat bagi para penatua dan diaken, khususnya yang berkaitan dengan keluarga (1 Tim. 3:1-13).

2. Sikap Hamba Tuhan

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga perilaku diri kita sebagai hamba Tuhan terhadap keluarga kita.

(a) Kepedulian yang berlebihan – Menjadi hamba Tuhan yang peduli kepada keluarga tentu diharapkan oleh jemaat, tetapi hendaknya tidak berlebihan. Misalnya:

  • Membelanjakan uang untuk keluarga yang berlebihan sehingga kebutuhan dalam pelayanan terabaikan.
  • Menggunakan lebih banyak waktu untuk keluarga dari pada pelayanan terhadap jemaat.
  • Melibatkan keluarga dalam pelayanan yang tidak sesuai dengan karunianya, sehingga menggeser posisi jemaat/pengerja dari pelayanan.
  • Membela mati-matian keluarga yang bersalah.

(b) Ketidakpedulian – Kesibukan dalam pelayanan bisa membuat seorang hamba Tuhan mengabaikan keluarganya. Tentu hal semacam ini tidak boleh terjadi. Ketidakpedulian itu bisa menyebabkan keluarga terlantar yang kemudian bisa menimbulkan cemoohan jemaat dan masyarakat sekitarnya. Misalnya:

  • Mengabaikan Mezbah Keluarga atau pembinaan rohani bagi keluarganya, sehingga isteri dan anak-anak hidup dalam hawa nafsu kedagingan.
  • Mengabaikan waktu kebersamaan dengan keluarga sehingga isteri dan anak lebih banyak curhat ke majelis, pengerja atau jemaat.
  • Mengabaikan pendidikan anak sehingga anak-anak tidak memperoleh prestasi yang baik di sekolah.
  • Mengabaikan kebutuhan ekonomi dan keuangan keluarga, dengan menggunakan berkat Tuhan untuk hal-hal yang tidak perlu.

(c) Melibatkan Jemaat – Hamba Tuhan bias meminta jemaat – sebagai bagian dalam keluarga Allah – untuk ikut memberi masukan dan koreksi terhadap perilakunya dan perilaku keluarganya, dan mau memaafkan apabila ada yang keliru. Masukan dan koreksi dari jemaat tidak boleh dianggap sebagai ancaman melainkan mitra yang positif agar bisa melayani lebih efektif.

3. Sikap Pasangan Hidup

Oleh karena suami isteri adalah satu daging, berarti panggilan Tuhan atas suami/isteri sebagai hamba Tuhan juga merupakan panggilan bagi pasangannya. Itu berarti bahwa pasangan harus memberikan dukungan penuh terhadap pelayanan sang hamba Tuhan. Bentuk kongkret dukungan itu antara lain sebagai berikut:

  • Ikut terlibat dalam pelayanan sesuai dengan karunia dan talentanya.
  • Melengkapi diri dengan pelbagai bahan untuk menunjang pelayanan di bidang rohani dan kehidupan sehari-hari, baik melalui buku-buku, seminar, dan sebagainya.
  • Menjaga kerahasiaan konseling jemaat.
  • Berpenampilan sederhana namun tetap rapi dan sopan.

4. Sikap Anak-anak

Anak-anak hamba Tuhan seringkali dituntut untuk menjadi teladan. Ini menjadi beban yang amat berat bagi mereka. Oleh sebab itu anak-anak hamba Tuhan harus ditolong dengan hal-hal berikut.

  • Mendorong mereka untuk tampil sesuai dengan diri mereka, dan tidak tampil dengan dibuat-buat, sombong atau rendah diri (minder).
  • Mendisiplin mereka jika memang memunculkan sikap memberontak dan mengganggu pelayanan dan ibadah. Ingat kasus Imam Eli.
  • Melatih dan melibatkan mereka dalam pelayanan sesuai dengan talenta yang mereka miliki.
  • Tidak memaksa mereka untuk juga menjadi hamba Tuhan full timer, kecuali memang Tuhan memanggil mereka.

5. Keseimbangan

Alkitab mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan (2 Kor. 8:14). Itu berarti bahwa kita harus menjaga keseimbangan antara hidup pribadi, keluarga, dan pelayanan. Tidak ada salahnya jika kita beristirahat dari pelayanan, berlibur atau cuti dari pelayanan jika memang keluarga kita membutuh-kan kehadiran kita bersama mereka. Jangan hanya sang hamba Tuhan yang maju di depan, melainkan seluruh keluarga diajak maju bersama.

____________________________________________________________

Malang, 16 Maret 2011

Pdt. Petrus F. Setiadarma

Email: petrusfs60@yahoo.com; Blog: http://www.petrusfs.co.cc/

Susunan Panitia Rakerda Jatim 2011

Penasihat: Majelis Pusat GPPS

Penanggung Jawab: Pengurus Daerah Jawa Timur GPPS

Ketua: Pdp. Edy Suryanto Sutijadi

Wakil Ketua: Pdp. Titus Kasiyo

Sekretaris: Pdm. Mulyosari & Pdp. Yusak Sunaryo

Bendhahara: Pdp. Lely Yulian & Pdm. Markus Hariyanto

Sie Doa: Pdp. Sugiarto, Pdt. Timotius Triyanto, Pdp. Herlin, Pdp. Jeany Yulian, dan Bp. Samuel Rifai

Sie Acara: Ev. Samuel Souisa & Ibu Wiji Astutik

Sie Dana: Bp. Davin Hans Sunanto & Ev. Daniel

Sie Konsumsi: Ibu Chandra Yulian, Ibu-Ibu Rayon Ketubimas, dan Ibu Ruth Yulian

Sie Kesekretariatan (Humas): Pdp. Yusak Sunaryo & Sekretaris PD Jatim

Sie Akomodasi: Pdt. Filipus Saidjan, Pdt. TImotius Triyanto, Bp. Poediono, dan Ev. Daniel

Sie Perlengkapan: Ibu Liana Dewi, Bp. B.L. Tobing, dan Bp. Susilo

Sie Dokumentasi: Sdr. Yonathan Ibrahim

Sie Keamanan: Bp. A. Gultom

Sie Kesehatan: Dr. Gideon